Potensi Pengembangan Ilmu

Ilmu adalah pengetahuan yang pasti, sistematis, metodik, ilmiah dan mencakupkebenaran umum mengenai objek studi. Ilmu membentuk daya intelegensi yangmelahirkan ketrampilan (skill). Ilmu artinya pengetahuan yang ilmiah. Istilah ilmu dalam pengertian klasik diartikan sebagai pengetahuan tentang sebab-akibat atau asal usul.

Menurut The Liang Gie (1987), memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin di mengerti manusia.

Daoed Joesoef menunjukkan bahwa pengertian ilmu mengacu pada tiga hal, yakni produk-produk, proses dan masyarakat. Ilmu sebagai produk, artinya pengetahuan yangtelah diketahui serta diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Ilmu sebagai proses,artinya kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman duniaalami sebagaimana adanya bukan sebagaimana yang dikehendaki. Ilmu sebagaimasyarakat, artinya dunia pergaulan yang tindak tanduknya, perilaku dan sikap serta tuturkatanya diatur oleh empat ketentuan yaitu: universalisme, komunalisme, tanpa pamrih danskeptisisme yang teratur.

Ilmu juga menurut para filosof muslim dimana mereka membedakan ilmu menjadi ilmu yang berguna dan ilmu yang tidak berguna. Mereka mengkategorikan ilmu yang berguna dengan memasukan ilmu-ilmu yang mereka anggap ilmu-ilmu duniawi, seperti kedokteran, fisika, kiia, geografi, logika, etika, bersama disiplin-disiplin ilmu lain yang khusus yang membahas mengenai ilmu keagamaan. Selain itu juga ilmu sihir, alkemi dan numerologi (ilmu nujum yang menggunakan perbilangan) yang dimana mereka memasukannya kedalam kategori ilmu yang tidak berguna.

Seringkali kita dalam pembahasan ilmu kita menjumpai paradigma bebas nilai dalam ilmu. Value free, begitulah nilai tersebut biasa disebut di dalam bahasa inggris. Arti dari value free sendiri adalah pemahaaman diamana ilmu dan teknologi bersifat otonom. Dikarenakan ilmu bersifat otonom, maka dapat dikatakan ilmu sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan nilai. Hal ini yang menyebabkan terjadinya batasan-batasan etis yang malah hanya akan menghalangi potensi serta ekplorasi pengembangan ilmu.

Ilmu muncul ketika manusia telah mengetahui dan melakukan sesuatu. Manusia mengembangkan sifat-sifat ilmu seperti rasional, kognitif dan bertujuan ganda. Perkembangan ilmu pengetahuan bertujuan untuk pengetahuan manusia, mencari kebenaran di dunia, memahami fenomena alam, menjelaskan fenomena alam yang telah dialami, peramalan keadaan yang akan datang, pengendalian keadaan yang dianggap merugikan dan aplikasi ilmu pengetahuan tersebut untuk kesejahteraan banyak orang. Ilmu pengetahuan juga bermanfaat bagi perkembangan budaya manusia dan kesejahteraan manusia. Itulah yang membuat manusia berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut sesuai dengan kemampuan dan zamannya.

Sedangkan pengetahuan (knowledge) yang dapat dikenali (identify), dapat diterangkan (explain), dapat dilukiskan (describe), dapat diperkirakan (predict), dapat dianalisis (diagnosis), dan dapat diawasi (control) akan menjadi suatu ilmu (science) :

Dari pendapat diatas, maka setiap ilmu sudah pasti pengetahuan, tetapi setiap pengetahuan belum tentu sebagai ilmu. Kemudian syarat yang paling penting untuk keberadaan suatu pengetahuan disebut ilmu adalah adanya objek. Pengetahuan yang bukan ilmu dapat saja berupa pengetahuan tentang seni dan moral.

Ada tiga kategori pengetahuan yang perlu kita kenal, yakni : 

  1. Pengetahuan inderawi (knowledge) yang meliputi semua fenomena yang dapat dijangkau secara langsung oleh pancaindera. Batas pengetahuan ini adalah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh pancaindera.  Ia merupakan tangga untuk melangkah ke ilmu.
  2. Pengetahuan keilmuan (science) yang meliputi semua fenomena yang dapat di teliti dengan riset atau eksperimen, sehingga apa yang ada di balik knowledgebisa terjangkau. Batas pengetahuan ini adalah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh rasio dan pancaindera. 
  3. Pengetahuan falsafi yang mencakup segala fenomina yang tak dapat diteliti, tapi dapat dipikirkan. Batas pengetahuan ini adalah alam, bahkan bisa menembus apa yang ada di luar alam yakni Tuhan.

Kalau kita kaji lebih jauh dan mendalam, ternyata ada dua hal yang nampaknya sepele dan sering kita temui dalam kenyataan sehari-hari, yakni tentang penyebutan antara ilmu dan ilmu pengetahuan. Apakah sama ataukah terdapat perbedaan mendasar dari dua istilah di atas ?

Dalam Webster’s New Collegiate Dictionary, tertulis dua istilah : knowledge dan science. Dari penjelasan Webster tersebut, dapat ditarik suatu pelajaran bahwa “knowledge” menjelaskan tentang adanya suatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari (regularly) melalui pengalaman-pengalaman, kesadaran, informasi, dan sebagainya.   Sedangkan “science”, di dalamnya terkandung adanya pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah, dan mencakup kebenaran umum mengenai objek studi yang lebih bersifat fisis (natural). 

Oleh sebab itu, sudah seharusnya ada tuntunan untuk pemberian nama, apakah ilmu ataukah Ilmu Pengetahuan, walaupun kedua hal itu adalah sama pentingnya dalam hidup dan kehidupan manusia. Ilmu membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill yang bisa mengkonsumsi setiap masalah. Sedangkan pengetahuan membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan manusia. 

  1. Cara memperoleh ilmu pengetahuan

Setiap manusia yang berakal sehat pastinya punya keinginan untuk mengetahui sesuatu yang baru. Dari rasa ingin tahu tersebut pada akhirnya akan menghasilkan cara atau metode untuk mendapatkan kebenaran. Pengetahuan yang bisa menjawab segala masalah yang muncul dalam setiap keingintahuan dan keragua-raguan yang menyelimuti alam pikiran kita. Ilmu Pengetahuan dan Nilai

Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya menyebutkan tiga buah metode dalam mencari pengetahuan, yakni :

  1. Rasionalisme

Kaum rasionalis mulai dengan suatu pertanyaan yang sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai  membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, maupun tidak mempelajari lewat pengalaman.

  1. Empirisme

Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, maka ia akan berkata “ tunjukkan hal itu ada”. Jadi, secara khusus kaum empiris mendasarkan teori pengetahuannya kepada pengalamannya yang ditangkap oleh panca indera kita. 

  1. Metode Keilmuan

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah satu cara dalam memperoleh pengetahuan. Metode ini merupakan kombinasi antara rasionalisme dan empirisme. Dalam metode ini, para ilmuwan memulai dari kerangka dasar yakni, perumusan masalah, penyusunan atau klasifikasi data , perumusan hipotesis, penarikan deduksi dari hipotesis, tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesa.

Sementara Andi Hakim Nasution dalam bukunya juga menjelaskan 4 metode dalam mencari pengetahuan walau dalam istilah yang berbeda namun sama secara substansial, yaitu metode kegigihan, metode kewibawaan (penerapan), metode a priori atau disebut juga metode intuisi (hipotesa), metode sains.

Tampaknya seluruh langkah langkah-langkah di atas dapat dipakai untuk bidang apa saja, tetapi hanya terbatas mengenai pengalaman manusia (inderawi). Padahal kebenaran tidak hanya seputar bidang-bidang fisis kuantitatif saja, akan tetapi juga di bidang spirit kualitatif. Jadi metode ilmiah mempunyai keterbatasan, yaitu pada hal-hal yang bersifat empirik saja.

Metode pengembangan ilmu

Yang  dimaksudkan dengan metode yaitu metode ilmiah.  Metode ilmiah ialah cara untuk mendapatkan  atau menemukan pengetahuan yang benar dan bersifat ilmiah. Metode ilmiah mensyaratkan asas, pengembangan dan prosedur tertentu yang disebut  kegiatan ilmiah misalnya penalaran, studi kasus  dan penelitian. Metode  ilmiah dapat dengan penalaran dan pembuktian kebenaran ilmiah. Metode Ilmiah dengan penalaran dan kesimpulan atau pembuktian kebenaran. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran adalah suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang benar dan  bukan hasil perasaan.

Penalaran  merupakan kegiatan yang mempunyai ciri tertentu  dalam penemuan kebenaran. Dua  ciri penalaran :

1)      Berpikir logis adalah kegiatan berpikir menurut pola, alur dan kerangka tertentu (frame of logic) yaitu, menurut logika: deduksi-induksi, rasionalism-empirism, abstrak-kongkrit.

2)      Berpikir analitis adalah konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir analisis-  sintesis  berdasarkan langkah-langkah tertentu (metode ilmiah/ penelitian).

Menurut Archie J. Bahm, metode pengembangan ilmu ilmiah memiliki enam karakteristik utama, yaitu:

  • Rasa ingin tahu (curiosity)

Rasa ingin tahu ilmiah berupaya mempertanyakan bagaimana sesuatu itu eksis, apa hakekatnya, bagaimana sesuatu itu berfungsi, dan bagaimana hubungannya dengan hal-hal lain. Rasa ingin tahu ilmiah berujung pada pengertian.

  • Spekulatif

Yang dimaksudkan dengan spekulatif oleh Bahms adalah keinginan untuk mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Dia harus membuat beberapa upaya. Ketika solusi terhadap suatu masalah ilmiah tidak muncul dengan segera, upaya harus dilakukan untuk menemukan solusi. Seseorang harus mencoba untuk mengemukakan hipotesis-hipotesis yang dapat dimanfaatkan sebagai solusi-solusi. Seseorang dapat saja mengeksplorasi beberapa hipotesis alternatif. Spekulasi adalah keinginan untuk terus mencoba dan mencoba, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri khas dari sikap ilmiah adalah keinginan untuk berspekulasi.

  • Kesediaan untuk menjadi objektif

Objektifitas adalah salah satu hal dari sikap subjektifitas. Objek selalu merupakan objek dari subjek. Objektifitas bukan saja berhubungan erat dengan eksistensi subjek tetapi juga berhubungan dengan kesediaan subjek untuk memperoleh dan memegang suatu sikap objektif. Bahm menyatakan bahwa kesediaan untuk menjadi objektif meliputi beberapa hal yaitu:

  • Kesediaan untuk mengikuti rasa ingin tahu ilmiah kemana saja rasa itu membimbing. Kesediaan ini mengisyaratkan keingintahuan dan kepedulian tentang penyelidikan lebih lanjut yang dibutuhkan demi pengertian sampai tahap kebijaksanaan yang dimungkinkan.
  • Kesediaan untuk mau menerima. Yang dimaksud di sini adalah penerimaan terhadap data. Data adalah sesuatu yang sebagaimana adanya (given) dalam pengalaman ketika objek-objek diamati, diterima sebagai suatu masalah untuk dipecahkan. Sikap ilmiah termasuk kesediaan untuk menerima data sebagaimana adanya. Data dan hipotesis dilihat sebagai instrumen untuk menerima kebenaran tentang objek itu sendiri, dapat mewujudkan kesediaan menjadi objektif. Suatu hipotesis dalamnya terkandung dua hal yaitu penemuan (pengamatan fakta-fakta tentang objek atau masalah) dan hasil dari penemuan (ide-ide yang bertujuan untuk membangun konsep tentang objek atau masalah).
  • Kesediaan untuk bertahan. Tidak ada aturan yang menyatakan berapa lama seorang ilmuan harus bertahan dalam pergulatan dengan masalah yang alot. Kesediaan untuk tetap objektif mensyaratkan kesediaan untuk terus melanjutkan dan bertahan selama mungkin dan mencoba mengerti objek atau masalah sampai pengertian diperoleh.
  • Pikiran yang terbuka

Sikap ilmiah mengisyaratkan kesediaan untuk berpikiran terbuka. Hal itu termasuk kesediaan untuk mempertimbangkan segala hal yang relevan seperti hipotesis, dan metodologi yang berhubungan dengan masalah. Hal itu termasuk kesediaan untuk menerima, bahkan mengundang ide-ide baru yang berbeda dengan kesimpulan-kesimpulan yang telah dibangun. Kesediaan untuk mendengarkan dan menguji pandangan-pandangan yang lain.

  • Kesediaan untuk menangguhkan keputusan

Ketika suatu masalah kelihatannya tidak terselesaikan atau terpecahkan dengan jawaban-jawaban penelitian yang dilakukan, maka kesediaan untuk menangguhkan keputusan adalah hal yang tepat sampai semua kebenaran yang diperlukan diperoleh atau tersedia. Dalam bagian ini, yang dibutuhkan adalah sikap kesabaran ilmiah.

  • Tentativitas

Sikap ilmiah membutuhkan kesediaan untuk tetap bersifat sementara dalam menerima seluruh kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang dibangun. Walaupun suatu hasil dalam kajian ilmiah itu bersifat sementara, tetapi kesediaan untuk tetap mempertahankan kesimpulan yang telah diperoleh dan dibuat juga perlu.

 

 

  1. Teori Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan memiliki 3 komponen

  1. Ontologi Azas dalam menetapkan ruang lingkup objek penalaahan ilmu.
  2. Epistemologi Azas bagaimana ilmu itu diperoleh dan disusun.
  3. Aksiologi Azas Penggunaan/ penerapan dari IP

Ilmu Pengetahuan sudah mulai berkembang sejak manusia ada di bumi. Perkembangan ilmu pertama didunia diperkirakan dimulai di dunia timur seperti china dan india. Secara ilmiah perkembangan ilmu dikenal dari zaman yunani kuno.

 

  1. Tahapan Perkembangan Ilmu
  2. Animisme

Animisme adalah kepercayaan yang dimana meyakini bahwa semua gejala alam dipengaruhi oleh ; dewa, hantu, dan ruh gaib. Salah satu suku yang masih memegang keyakinan ini adalah suku Indian. Mereka percaya bahwa kelaparan dan bencana alam disebabkan oleh ruh halus sedang marah untuk itu perlu diadakan upacara-upacara yang harapannya akan menghentikan kelparan dan bencana alam yang mereka alami.

  1. Ilmu Empiris

Pada tahapan ini, ilmu mulai dibangun dari hubungan-hubungan satu fenomena dengan fenomena yang lain secara empiris. Tahapan-tahapan tersebut didapat melalui pengalaman manusia/ahli, pengklasifikasian fenomena alam, misalnya hujan, ikan, burung, padi, dll, kuantifikasi fenomena, dan penemuan hubungan-hubungan. Selain itu ada theoretike yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu mathematike, pysike, prote philosophia (filsafat).

  1. Ilmu Teoritis

Merupakan tingkat paling terakhir dari perkembangan ilmu. Ilmu teoritis merupakan hal diaman hubungan/gejala ditemukan dalam ilmu empiris, kemudian diterangkan dengan dasar suatu kerangka pemikiran sebab akibat. Pada tahap ini, hampir sebagian besar ilmu alam sudah masuk, sedangkan ilmu sosila belum bisa masuk ke dalam tahap ini.

 

  • Periode Pengembangan Ilmu Pengetahuan
  • Periode Perkembangan Pengetahuan Pada Zaman Batu/Logam
  1. Zaman Batu Tua/Prasejarah (4 juta-10.000 SM)

Pada zaman ini telah ada konsep tentang alat dari batu, kayu dan tanah. Selain itu alat-alat yang digunakan sudah mulai dipergunakan dan mengalami berbagai perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi berupa perubahan-perubahan fungsi dan bahan. Proses perubahan yang terjadi melalui trial dan error tanpa adanya dasar sistem yang jelas.

Mereka juga menemukan tanaman dan ternak (15.000-10.000 SM)

  1. Zaman Batu Muda/Sejarah

Pada zaman ini merupakan zaman dimana lahirnya kemampuan menulis, membaca, dan lokasi adalah Mesir Kuno, Babylon Sumeria, India dan China. Di zaman ini juga merupakan zaman dimana lahirnya kemampuan dalam berhitung. Lokasi nya adalah Romawi

  1. Zaman Logam

Pada zaman ini ditemukannya perunggu, baja dan perhiasan patung isteri firaun

  • Zaman Yunani dan Romawi Kuno

Pada zaman ini merupakan zaman dimana lahirnya ilmu abstarak/filsafat. Naturalisme lonis-dunia dimana mulai muncul pertanyaan-pertanyaan tentang alam. Kuantitas dan bilangan contohnya munculnya matematika yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya Pytagoras (580-500 SM) dengan segitiga siku-siku. Juga merupakan zaman dimana terlahirnya teori atom dan hampa demokritus (460-370 SM) dan Leucippus (450 SM). Selain itu zaman ini merupakan zamaa diamana terlahirnya tokoh-tokoh terkenal di dunia yang mengenalkan pertama kali tentang konsep logika (Socrates), konsep idealisme (Plato) yang dimana inti dari konsep idealisme adalah dunia terbuka bagi ratio dan dunia terbuka bagi panca indra, konsep silogisme (Aristoteles) yang menjelaskan benda jasmani terdiri dari bentuk dan materi, lahirnya matematika, mekanika, astronomi dan kedokteran.

  • India dan China
  1. India

Subjektif, perasaan dan menyatu dengan alam, magic religius, dipengaruhi Veda dan agama yang lahir disana, matematika dan astronomi hindu

  1. China

Lahirnya filsuf seperti confusius, Lao-Tse, Taoisme, lahirnya pengetahuan seperti matematika, berkembangnya teknologi kertas dan mesin cetak

  • Ilmu Pada Abada Kegelapan

Kerajaan Romawi 295 SM-1453 SM, kerajaan romawi terkenal dalam bidang militer, perang, politik, perdagangan, irigasi, jalan raya, dll, kerajaan romawi hanya berperang pada karya Aristoteles dan agama.

  • Pada Masa Islam

Wahyu pertama iqra, mulai berkembannya bagaimana cara menerjemahkan karya filsafat yunani dengan membersihkan kekafiran, zaman dimana lahirnya metode kimia (al-kimia), lahirnya kedokteran islam dimana mulai muncul tokoh-tokh islam di bidang kedokteran seperti Al Razi, Ibnu Sina yang dijuluki Prince of Doctors dimana ia menerbitkan dua buku yang menjadi pegangan kedokteran klasik hingga saat ini, Al farabi dan Ibnu Rusd. Berkembangnya ilmu alam, matematika (huruf arabic, alqorisma dan aljabar), serta arsitektur islam. Namun, lambat laun masa islam mengalami kemunduran yang disebabkan oleh jatuhnya andalusia, perang salib serta penyerangan yang terjadi di Bagdad yang dilakukan oleh Mongol (1258)

  • Periode Kebangkitan Eropa (Abad 12-18)

Zaman merupakan zaman dimana lahirnya Neo Yunani, hancurnya kristen dan mundurnya islam, perkembangan pertama yang dilakukan oleh Roger Bacon, berkembangnya astronomi dan geometri (Copernicus, Galileo dan Keppler), terjadinya revolusi teknik dan revolusi intelektual, perkembangan yang terjadi di eropa antar lain karya yunani yang diterjemahkan oleh islam, terjadinya perang salib, Istambul jatuh ke tangan Turki (1453)

  • Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Abad 18-19

Terjadinya revolusi industri di Inggris yang kemudian memunculkan penemu-penemu seperti J. Watt, revolusi Perancis, penemuan listrik dan zat kimia, berekembangnya teori evolusi yang kemudian memunculkan Teori Darwin

  • Ilmu Pengetahuan Abad Ke 20

Revolusi ilmu dan kemajuan fisika, perkembangan sumber energi, revolusi genetika, psikoanalisa, telekomunikasi, komputer

 

  1. Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Terdapat 3 pendapat tentang strategi pengembangan ilmu pengetahuan

  • Ilmu dikembangan daam otonom tertutup sehingga membuat pengaruh konteks dikurangi
  • Ilmu dan konteks dikembangan sekaligus
  • Ilmu masuk ke dalam konteks

Strategi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia

  • Pengembangan ilmu pengetahuan perlu rencana jangka panjang (visi) dan orientasi filosofi berdasarkan nilai bangsa
  • Pengembangan ilmu pengetahuan perlu perlu visi dan orientasi operasional berdasarkan dimensi teleogis (tujuan) dan etis (meningkatkan harkat dan tanggung jawab manusia)

Sumber :

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *